Lihat Gambar 01:
Gambar 01
Lalu sadarkah kalian jika dari kalimat tersebut, berubah menjadi "Rokok Membunuhmu".
Lihat Gambar 02.
Gambar 02
Awalnya TS berpikir bahwa hal itu hanya salah pengetikan, tapi mustahil, sebab untuk membuat papan reklame tak semudah mencetak kertas atau gambar dalan satu lembar A4 yang yang jika tak sesuai dengan keinginan, lalu dibuang begitu saja, melainkan harus penuh dengan pertimbangan karena cost yang dibutuhkan bukanlah hanya selembar kertas A4 atau HVS. Bukan pula karena pengiritan penulisan sehingga tulisan yang perlu dibayarkan pada jasa iklan berkurang 2 (dua) karakter. sebab, jika kita amati, gambar disebelah tulisan larangan tersebut justru memakan lebih banyak cost sebagai gambar yang berwarna.
Dari situ TS mulai berpikir kepada hal yang benar-benar masuk akal.
Lalu, dari kata "Rokok Membunuhmu" lah merupakan kata global yang 'mungkin' cocok dengan seluruh anggapan-anggapan mengenai rokok. Ya, jelas saja. Yang menjadi pemicu utama buruknya kesehatan adalah rokok itu sendiri. Rokok lah yang akan membunuh manusia, entah dengan sendiri ataukah massal, dengan cara perlahan ataukah cepat. "Rokok Membunuhmu" juga agak kurang tepat jika di plesetkan dengan 'benda isap' dalam bentuk lain. Sebab, benda isap dalam bentuk lain nisa kita sebut inhaler, dan rokok tetaplah berdiri kokoh sebagai rokok. Dan rokok merupakan benda berwajah manis terhadap customer yang akan membunuhnya secara mau tak mau.
Bahkan biro iklan pun sudah sedemikian memberi tahu betapa buruknya dampak rokok bagi kehidupan manusia. Apa lagi yang harus kalian tunggu untuk menghentikan merokok yang artinya sama dengan membunuh orang tercinta didekatmu?


Kenyataannya, sampai saat ini belum ada bukti empiris bahwa rokok itu mematikan. Angka kematian yg disebabkan oleh rokok sangat kecil.
ReplyDeleteSaya bukan perokok, dan kurang suka dg perokok. Klo dirokok mungkin suka, gatau sih, blm pernah. Muahahahaa. Saya tidak suka karena perokok cenderung suka buang sampah sembarangan, bau asap rokok yg menjijikkan, juga kesan "nakal" yg ditimbulkan.
Rokok hanyalah "sarana kematian" namun bukan berarti dengan merokok langsung "mematikannya." Rokok menjadi begitu buruk dampaknya disebabkan pola hidup manusianya tersebut. Ditilik dari keuntungan dan kerugian, tak ada keuntungan yang dirasakan dalam merokok selain rasa puas. Benar bukan? Tak ada larangan dalam merokok, namun hanya sebuah wacana kepedulian terhadap perokok dan diri sendiri.
DeleteJadi, perlukah diteruskan hal "merokok" tersebut? :)